Tahukah Anda? : Sejarah Micin & Benarkah MSG Jelek Bagi Kesehatan?

16 Januari 2018 08:00 WIB Muhammad Rizal Fikri Teknologi Share :

Monosodium Glutamate atau micin merupakan bumbu penyedap rasa.

Solopos.com, SOLO – Siapapun orangnya baik bisa masak ataupun tidak, pasti mengenal bumbu penyedap bernama monosodium glutamate atau bisa juga disebut vetsin atau lebih populer dengan nama micin.

Tahukah Anda kalau bumbu penyedap itu ditemukan di Jepang dan menjadi kontroversi selama bertahun-tahun namun tidak pernah benar-benar terbukti secara ilmiah?

Mari kita kembali ke tahun 1908 sebelum micin ditemukan. Berdasarkan Journal of American Chemical Society tentang Monosodium Glutamate yang terbit tahun 2003, professor dari Imperial University of Tokyo, Kikunae Ikeda, berambisi untuk mencari jawaban mengenai alasan mengapa hampir semua orang di Jepang pada waktu itu menggunakan rumput laut sebagai penyedap rasa.

Kikunae mengeringkan rumput laut Kombu dan berhasil mengekstrak unsur bernama 1-glutamate. Berdasarkan penelitian Kikunae, 1-glutamate menghasilkan rasa yang bukan manis, bukan asin, bukan asam, namun lebih cenderung gurih. Pada waktu itu Kikunae menyebutnya sebagai rasa umami bahasa Jepang yang bisa diartikan sebagai suatu rasa berkaldu.

Unsur yang didapat Kikunae tersebut kemudian dipadukan dengan sodium sehingga menjadi lebih stabil dan disebut dengan monosodium glutamate (MSG).

Ajinomoto

Tak lama setelah itu pada 1909, Kikunae mendaftarkan penemuannya itu dengan merek dagang Aji-No-Moto yang bertahan sebagai merek micin hingga saat ini.

Setelah penemuan Kikunae itu, micin menjadi salah satu bumbu penyedap paling digemari di dunia. Tak hanya di Asia, restoran-restoran di Amerika pun menggunakannya.

Namun hal itu terguncang dengan “Sindrom Restoran China” yang digaungkan oleh seorang dokter bernama Ho Man Kwok pada 1968. Dia mengirim surat  kepada New Englan Journal of Medicine mengklaim merasakan efek negatif mengonsumsi micin.

Dr. Ho mengaku merasakan berbagai gejala aneh setelah memakan masakan China. Beberapa gejala itu seperti mati rasa di leher bagian belakang, yang kemudian menyebar ke tangan dan punggung. Kemudian dia juga merasakan pusing hingga debar jantung tak beraturan.

Dalam surartnya Dr.Ho sempat berasumsi gejala itu bisa jadi dikarenakan saus kedelai atau alkohol yang biasa digunakan sebagai bumbu chinese food, namun dua parameter itu dia abaikan dan hanya menuduh ke efek micin.

Meski belum terbukti, pada waktu itu klaim Dr. Ho viral dan membuat beberapa peneliti dan otoritas dari berbagai negara melakukan penelitian terkait MSG atau micin.

Artikel BBC yang terbit 2015 lalu mengungkap beberapa penelitian terkait bahaya MSG.  Peneliti dari Universitas Washington, Dr, John W. Olney, melakukan penelitian terhadap beberapa bayi tikus dan monyet.

Micin Berhaya?

Dalam percobaan pertama, tikus yang saat bayi diberi micin dengan dosis besar tumbuh obesitas, kerdil, dan beberapa mandul. Hal serupa juga terjadi di monyet pertama yang diberi MSG secara oral.

Namun, saat percobaan diulangi, gejala serupa tidak ditemukan di 19 monyet lainnya. Bahkan peneliti lain yang melakukan hal serupa tidak menemukan efek negatif sebelumnya.

Tak hanya dilakukan terhadap hewan, percobaan terkait efek micin juga dilakukan terhadap manusia. Percobaan dilakukan oleh peneliti bernama L. Tarasoff dan M.F. Kelly. Mereka melakukan percobaan pada 71 orang yang dianggap sehat.

Para relawan itu diberi kapsul berisi micin dan obat netral yang biasa disebut plasebo. Dari penelitian tersebut tidak ditemukan efek negatif khusus bagi mereka yang diberi kapsul micin. Hasil itu berulang saat relawan yang sebelumnya diberi plasebo dicoba untuk diberi kapsul micin.

Pada 1995 badan pengawas makanan dan obat Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan pernyataan resmi bahwa “Sindrom Restoran China” seolah-olah berniat merendahkan fungsi micin sebagai penyedap.  rasa.

Namun FDA memiliki terminologi bernama MSG symptom complex karena ada beragam gejala pasca-mengonsumsi micin. Dengan beragamnya efek tersebut dan tak bisa diprediksi, FDA menetapkan micin  sebagai bahan aman atau dalam bahasa resmi sebagai Gras (Generally Recognised as Safe). Di amerika Serikat, makanan yang mengandung micin atau MSG diwajibkan mencantumkan hal itu di kemasan.