Jadi Google Doodle, Begini Sejarah & Tujuan Hari Perempuan Sedunia

08 Maret 2018 12:30 WIB Muhammad Rizal Fikri Teknologi Share :

Hari Perempuan Sedunia ikut diperingati oleh Google dengan banner khusus di laman pencarian.

Solopos.com, SOLO – Ada yang berbeda dengan halaman utama mesin pencari Google pada Kamis (8/3/2018). Google memasang Google Doodle untuk turut memperingati Hari Perempuan Sedunia yang diperingati setiap 8 Maret.

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia ini Google memajang berbagai cerita dari perempuan ilustrator yang berasal dari berbagai negara. Beberapa dari mereka antara lain, Kaveri Gopalakrishnan asal India, Chihiro Takeuchi asal Jepang, Karabo Poppy asal Afrika Selatan, dan Isuri asal Sri Lanka.

Laman resmi Hari Perempuan Sedunia, internationalwomensday.com menegaskan Hari Perempuan Sedunia bukanlah milik organisasi tertentu, tapi hari peringatan global milik seluruh perempuan di Bumi. Hari Perempuan Sedunia memperingati berbagai capaian perempuan di berbagai bidang seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

Hari Perempuan Sedunia sudah diperingati sejak awal 1900-an. Pada waktu itu perkembangan industri menyebabkan meledaknya populasi dan meningkatnya ideologi radikal. Pada 1908, di New York, Amerika Serikat, para perempuan menjadi obyek opresi dan ketidaksetaraan hak. Mereka diminta bekerja dengan jam yang lebih banyak namun bayaran lebih sedikit.

Hal itu menimbulkan gejolak-gejolak protes dari kalangan perempuan. Puncaknya dikabarkan kurang lebih 15.000 perempuan melakukan unjuk rasa di New York menuntut pengurangan jam kerja, bayaran lebih layak, dan hak suara di pemilu.

Pada 1909, Partai Sosialis di Amerika Serikat menginisiasi Hari Perempuan Nasional. Waktu itu peringatan diselenggarakan pada 28 Februari. Setelah itu, hingga 1913, di Amerika Serikat Hari Perempuan Nasional diperingati di pekan terakhir bulan Februari.

Pada 1910, Kongres Perempuan Pekerja Internasional diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark. Ketua Divisi Perempuan partai Sosial Demokrat Jerman, Clara Zetkin, mencetuskan masukan agar Hari Perempuan diperingati di setiap negara, setiap tahun, pada waktu bersamaan. Hal itu dilakukan agar tuntutan perempuan bisa lebih didengar.

Hari Perempuan Internasional pertama kali diperingati pada 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Kondisi perang membuat peringatan Hari Perempuan Sedunia menjadi tak tentu. Pada 1913 peringatan sempat dilakukan di hari Minggu terakhir bulan Februari, seperti yang dilakukan di Amerika. Namun, dalam peringatan tersebut sebuah diskusi menghasilkan keputusan bahwa Hari Perempuan Sedunia akan diperingati setiap 8 Maret. Tanggal tersebut bertahan hingga sekarang.

http://images.harianjogja.com/2018/03/Kampanye-Press-For-Progress-Hari-Perempuan-Sedunia-2018-internasionalwomesday.com_.jpg">http://images.harianjogja.com/2018/03/Kampanye-Press-For-Progress-Hari-Perempuan-Sedunia-2018-internasionalwomesday.com_-370x247.jpg" alt="Kampanye Press For Progress Hari Perempuan Sedunia 2018 (internasionalwomesday.com)" width="370" height="247" />

Tahun ini, Hari Perempuan Sedunia mengkampanyekan tagar #PressforProgress. Kampanye tersebut dilatarbelakangi dengan laporan World Economic Forum's 2017 Global Gender Gap Report yang menyatakan kesetaraan gender bisa lebih dari 200 tahun lagi. Tagar tersebut di atas dikampanyekan untuk selalu digunakan agar perkembangan ke arah kesetaraan gender bisa diawasi, dipantau, hingga dipercepat.