Konsep Pesawat Unik, Kabin Penumpang “Dibuang” Saat Ada Bahaya

18 Maret 2018 19:15 WIB Muhammad Rizal Fikri Teknologi Share :

Konsep ini diciptakan ilmuwan asal Ukraina, Vladimir Taratenko.

Solopos.com, SOLO – Dalam dunia penerbangan, keselamatan alat transportasi menjadi satu tantangan utama agar tidak ada kecelakaan. Hal itu mendorong ilmuwan asal Ukraina, Vladimir Taratenko, merilis konsep pesawat terbang yang memungkinkan kabin penumpang dilepas dan dilengkapi parasut.

Vladimir mengungkap konsep ini pada 2016. Ia merilis video animasi yang menggambarkan pesawat penumpang di mana bagian ruang pengendali (ujung pesawat), hingga sayap, dan ekor pesawat terpisah dengan kabin tempat penumpang. Dua bagian itu akan dipasang saat pesawat akan diterbangkan.

Video tersebut melanjutkan simulasi tiga keadaan darurat saat penerbangan, yaitu saat lepas landas, saat di udara, dan saat akan mendarat. Dengan kabin yang bisa dilepas, saat pesawat mengalami kerusakan mesin atau kerusakan lainnya kabin penumpang bisa dilepas kemudian mendarat pelan dengan bantuan parasut dan pendorong. Kabin itu dilengkapi dengan pelampung otomatis apabila harus mendarat di air.

[caption id="attachment_903873" align="aligncenter" width="370"]http://images.harianjogja.com/2018/03/Kabin-pesawat-dilengkapi-parasut-dan-pelampung-saat-mendarat-darurat-Youtube.jpg">http://images.harianjogja.com/2018/03/Kabin-pesawat-dilengkapi-parasut-dan-pelampung-saat-mendarat-darurat-Youtube-370x231.jpg" alt="Kabin pesawat dilengkapi parasut dan pelampung saat mendarat darurat (Youtube)" width="370" height="231" /> Kabin pesawat dilengkapi parasut dan pelampung saat mendarat darurat (Youtube)[/caption]

Dalam video tersebut dijelaskan selama 10 tahun terakhir (dihitung pada 2016) 8% kecelakaan terjadi saat lepas landas, 21 % saat mendarat, dan 71% saat terbang. Dari semua itu, 75% penyebabnya karena faktor manusia.

Taratenko berpendapat mengurangi kemungkinan kelalaian manusia di luar kendali manusia. Sehingga perlu dibuat konstruksi baru dalam pesawat yang bisa mengurangi korban kecelakaan akibat kelalaian manusia. Setelah mempublikasikan konsepnya itu, Taratenko pun sudah membuat hak paten mengenai konsep tersebut.

Konsep Taratenko Belum Diaplikasikan

Meski sudah dirilis untuk publik, belum ada produsen atau maskapai mau menginvestasikan dana untuk konsep Taratenko. Laman CNN Travel mengungkapkan beberapa komunitas aviasi menganggap konsep Taratenko akan sangat mahal apabila diwujudkan.

Di Amerika Serikat, untuk satu pesawat saja maskapai membayar US$100 juta hingga US$350 juta atau sekitar Rp1,3 triliun hingga Rp4,8 triliun. Biaya itu belum termasuk biaya perawatan tahunan.

Di Amerika, pada 2014 sebanyak 641 korban meninggal dari 3,3 miliar penumpang pesawat. Hal menjadi bukti kalau penerbangan masih dalam taraf sangat aman. Angka itu jauh lebih sedikit dibanding korban penyakit jantung yang pada tahun tersebut tercacat 610.000 jiwa.

Dari fakta itu bisa ditebak dana akan lebih baik dialirkan ke penelitian penyakit jantung daripada membuat konsep pesawat yang belum pasti berhasil.

Selain itu komunitas aviasi juga mempertanyakan kemampuan kabin penumpang untuk menjaga keselamatan penumpang saat melakukan pendaratan darurat. Kabin yang tak memiliki ruang kendali dan tak memiliki sayap sangat tidak mungkin dikendalikan.