Mengenali Ciri Muslim Cyber Army (MCA) di Dunia Maya

29 Maret 2018 21:00 WIB Teknologi Share :

Safenet mengidentifikasi ciri-ciri Muslim Cyber Army (MCA) di media sosial.

Solopos.com, JAKARTA -- Muslim Cyber Army (MCA) diduga terlibat dalam berbagai tindak pidana di dunia maya, mulai dari hate speech hingga persekusi. Jaringan relawan kebebasan berekspresi di Asia Tenggara, Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet), memonitor aktivitas MCA di berbagai platform media sosial di Indonesia sejak Januari 2017 hingga Maret 2018.

Hasil monitoring ini dipublikasikan dalam Laporan: Memindai Aktivitas MCA Dalam Kontestasi Sosial-Politik di Indonesia yang dirilis pada Selasa (20/3/2018) lalu. Monitoring ini menggunakan berbagai data yang dikumpulkan oleh para relawan dalam bentuk wawancara dengan korban, turun ke lapangan, Social Network Analysis, Social Media Listening, dan investigasi.

Salah satu tujuan monitoring ini adalah melihat cara bekerja dan menemukan motif di balik aksi MCA. Hasil monitoring menemukan banyak hal, termasuk ciri-ciri MCA di dunia maya.

MCA yang terkadang memakai nama lain seperti Cyber Muslim Army atau Muslim Mega Cyber Army, merupakan identitas yang digunakan oleh sejumlah warganet di media sosial Indonesia. Mereka yang mengaku diri sebagai MCA menyebut sebagai organisasi tanpa bentuk, tanpa ketua, tidak punya gedung, tidak digaji, dan tanpa modal. Bahkan ada yang menyamakan MCA seperti kelompok bayangan seperti kelompok Anonymous.

Anonymous merujuk pada kelompok hacktivist yang dikenal sejak 2003 sebagai pelaku serangan DDOS terhadap sejumlah situsweb pemerintah, perusahaan, dan kelompok Scientology. Namun MCA ini bukanlah kelompok Anonymous atau memiliki keterkaitan dengan Anonymous. MCA hanya meniru penampilan fisik Anonymous dengan mengganti topeng Guy Fawkes dan ponco hitam dengan ikat kepala kotak-kotak.

Menurut Safenet, hal itu dilakukan untuk mengelabui publik dari kepentingan mereka dan menggunakan anonimitas itu untuk bersembunyi dari hukuman pidana UU No. 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan KUHP.

Berikut sejumlah ciri MCA yang dapat dikenali langsung oleh publik:

1. Menyebut dirinya sebagai MCA, Muslim Cyber Army, Cyber Muslim Army, MMCA. Sebagai identitas, MCA ditemukan dalam wujud yang beragam: dipakai sebagai nama akun, sebagai avatar/profile picture, sebagai nama grup atau halaman Facebook, disematkan dalam keterangan biodata, atau dinyatakan secara terbuka.
2. Berkelompok/kolektif. Kelompok atau kolektif MCA ini bergerak secara bergerombol yang dapat dikenali dari identitas yang ditunjukkannya. Penyebutan diri seperti lebah seperti yang kerap disampaikan mereka yang mengaku atau mengetahui MCA sebenarnya merujuk pada nas yang berbunyi: “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar). Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri.
3. Menyampaikan pesan yang sama di media sosial. Pesan yang sama ini bisa dipindai dari menyuarakan utas (hashtag) atau kata kunci (keyword) secara bersamaan dalam kurun waktu tertentu sehingga bisa mengarusutamakan pesan secara cepat di ranah online.

Hasil pemindaian oleh Safenet, MCA tidak hanya ada di Facebook, Twitter, dan Whatsapp seperti yang ramai diberitakan. Mereka juga muncul dalam kanal media sosial lain seperti Instagram, dan yang lebih tertutup seperti Telegram.

Tokopedia