Modus Pembobolan Oleh Cambridge Analytica: Berkedok Login Via Facebook

Ilustrasi Facebook (JDado Ruvic/Reuters)
17 April 2018 16:55 WIB John Andhi Oktaveri Teknologi Share :

Solopos.com, JAKARTA — Meski membantah adanya kebocoran data dari sistem Facebook, namun Kepala Kebijakan Publik Facebook untuk Indonesia, Ruben Hattari, mengakui kegagalan perusahaan itu dalam melindungi data pengguna akun platform itu. Pembobolan data tersebut melalui aplikasi buatan Cambridge yang menggunakan fitur Login Facebook yang bisa juga dipakai sebagai salah satu pilihan saat pengguna hendak mendaftar (sign up) aplikasi tertentu.

"Kejadian ini adalah bentuk pelanggaran kepercayaan dan kegagalan kami untuk melindungi data pengguna," ujar Ruben di ruang rapat Komisi I DPR, Kompleks Parlemen, Selasa (17/4/2018). Atas kejadian tersebut dia meminta maaf di depan Komisi I DPR yang menangani masalah komunikasi tersebut.

Dia pun menjelaskan metode yang digunakan pihak lain dalam menyedot data itu. Menurut Ruben, yang terjadi adalah adanya sebuah aplikasi bernama Thisisyourdigitallife yang dikembangkan oleh akademisi di Cambridge University, DR. Alexander Kogan. Aplikasi ini menggunakan fitur Facebook Login yang tersedia secara umum.

Facebook Login, menurut Ruben, memungkinkan pengembang aplikasi pihak ketiga untuk meminta persetujuan dari pengguna aplikasi Facebook agar aplikasi mereka bisa mengakses kategori data tertentu. Data itulah yang kemudian dibagikan pengguna tersebut dengan teman Facebook mereka.

"Facebook dengan tegas melarang penggunaan dan pengiriman data yang dikumpulkan menggunakan cara ini untuk tujuan lain," ujarnya.

Ruben menjelaskan, setelah DR Kogan mendapatkan data pengguna Facebook, data tersebut kemudian diberikan ke Cambridge Analytica. Padahal, Facebook tidak memberikan izin atau menyetujui pemindahan data tersebut dan itu dianggap telah melakukan pelanggaran kebijakan platforn Facebook.

“Facebook pun dengan cepat melakukan penyeledikan lebih lanjut mengenai masalah ini,” ujarnya.

Dia pun menjelaskan bahwa pada Maret 2018, ada media yang menghubunginya dan mempertanyakan apakah pihak-pihak terkait benar telah menghapus data yang mereka miliki sesuai dengan pengakuan mereka yang telah teridentifikasi secara hukum. Untuk itu, pihaknya akan terus mendalami kemungkinan tersebut sambil menunggu penyelidikan yang dilakukan Komisioner Informasi Inggris (ICO).