Facebook, Twitter, dan Youtube Sebut Konten Negatif Sulit Diatasi

Ilustrasi penggunaan Twitter (Pictagram)
06 Mei 2018 06:00 WIB Chelin Indra Sushmita Teknologi Share :

Solopos.com, SOLO – Pejabat sejumlah media sosial terpopuler, Facebook, Twitter, dan Youtube, menyebut ujaran kebencian, propaganda, dan berita bohong sulit diatasi. Pernyataan ini disampaikan dalam forum diskusi bersama mahasiswa di Universitas Stanford, Amerika Serikat. Ketiga perwakilan media sosial itu menyebut bahwa masalah ini sulit dipecahkan.

Dilansir My Sanantonio, Sabtu (5/5/2018), Twitter menghapus 6,4 juta akun setiap pekan demi melawan persebaran konten negatif. Sayang, Manajer Kebijakan Publik Twitter, Nick Pickles, tidak menyebut Twitter telah melakukan pembaruan terhadap aplikasi yang mereka kelola. Namun, tetap saja hal itu belum berhasil memberantas maraknya konten negatif yang meresahkan.

"Saya sangat terkejut melihat fenomena soal konten negatif ini. Semua itu merusak banyak hal dalam kehidupan masyarakat. Kita seolah hidup di era informasi berasal dari anekdot daripada data akurat," kata Nick Pickles.

Para pejabat media sosial itu menegaskan tidak ada yang tahu berapa banyak informasi negatif yang muncul dan seberapa besar dampaknya. Jupiner Downs, Kepala Kebijakan Publik Youtube, mengatakan jika masalah konten negatif akan selalu ada meski telah diberantas dengan berbagai cara. Namun, dia bersama timnya akan terus memerangi konten negatif yang meresahkan.

"Saya tidak setuju jika maraknya ujaran kebencian merupakan dampak buruk dari demokrasi. Kami akan terus memerangi konten negatif yang meresahkan agar demokrasi di berbagai negara berjalan dengan sehat," tegas Jupiner Downs.

Sama halnya dengan Youtube dan Twitter, sebelumnya CEO Facebook, Mark Zuckerberg, berpendapat bahwa ujaran kebencian lebih sulit diatasi ketimbang foto syur. Sebab, sistem keamanan yang dimiliki Facebook saat ini diklaim lebih mudah mendeteksi foto tidak senonoh daripada kalimat ujaran kebencian dan propaganda.

 

Tokopedia