Startup Kita: Indonesia Tak Ramah Ekosistem Bisnis Rintisan?

Ilustrasi seorang yang menerima kritik dan saran (freepik.com)
01 Juni 2018 21:35 WIB Indonesia Start Up Founder (IDSF) Solo Teknologi Share :
#StartupKita merupakan hasil kerja sama Solopos.com dengan Indonesia Start Up Founder (IDSF) Chapter Solo. IDSF Solo merupakan komunitas yang beranggotakan pegiat start up di wilayah Soloraya. Coworking space di Kota Solo.
Solopos.com, SOLO --  Seperti yang kita ketahui, startup merupakan sebuah usaha kewirausahaan yang biasanya merupakan bisnis baru yang tumbuh dengan cepat dan berkembang pesat yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan mengembangkan model bisnis yang layak seputar produk, layanan, proses, ataupun platform yang inovatif. Startup biasanya merupakan perusahaan yang dirancang untuk secara efektif mengembangkan dan memvalidasi model bisnis yang skalabel. Inti dari startups sendiri umumnya terkait dengan konsep ambisi, inovasi, skalabilitas, dan pertumbuhan.
 
Telah banyak startup yang lahir di Indonesia dengan berbagai jenis produk, genre bisnis, maupun ragam pemasaran yang berbeda. Banyak pula didirikan komunitas, kompetisi, hingga program inkubasi guna membangkitkan ekosistem startup di Indonesia. Bahkan Presiden Joko Widodo juga menyatakan dengan perkembangan startup akhir-akhir ini mampu menjadikan Indonesia negara yang punya daya saing tinggi dan ekonomi besar.
 
Namun banyak investor startup maupun pengelola program inkubasi yang mengeluhkan minimnya talent startup yang berkualitas. Memang banyak startup yang mendaftar dalam berbagai kompetisi, namun dari segi kualitas bisa dikatakan minim. Ternyata ada beberapa kendala mengapa ekosistem startup sulit berkembang di Indonesia.
 
 
Orang Indonesia lebih suka disuapi daripada berpikir out-of-the-box
 
Kebanyakan masyarakat Indonesia memiliki mental yang lebih suka melihat segala sesuatu apa adanya dan mental lebih suka disuapi. Padahal untuk membangun startup, sangatlah membutuhkan kreativitas tinggi. Orang Indonesia lebih suka duduk di zona nyaman sedangkan berpikir out-of-the-box membuat mereka harus keluar dari kursi nyaman. 
 
Kita tidak dapat menyalahkan orang-orang ini, kesalahan dari metode pendidikan di bangku sekolah dan bangku kuliah yang bersifat satu arah dan menyuapi (top-down approach) daripada yang bersifat fostering collaboration and creativity (bottom-up approach) adalah faktor utama kenapa orang Indonesia lebih suka disuapi dan mengikuti apa yang dikatakan oleh guru atau dosen.
 
Orang Indonesia takut menghadapi kegagalan dan tidak memiliki budaya continuous learning
 
Kita tahu untuk membangun startup, tentunya ada risiko maupun peluang kegagalan yang mungkin akan diterima. Bisa jadi, startup kita dapat gagal karena kurangnya dana yang dimiliki, masyarakat yang kurang menerima produk kita, serta kesalahan dalam menentukan lini pemasaran. Bila kita merujuk pada startup di luar negeri, hal ini masih dianggap lumrah dan mereka tak patah arang untuk membangunnya dari awal lagi.
 
Namun budaya masyarakat untuk gagal masih dianggap tabu di Indonesia. Daripada gagal menjalankan suatu startup dengan lini bisnis tertentu, mereka mau melihat orang lain gagal terlebih dahulu. Ini membuktikan bahwa continuous learning adalah sesuatu yang dianggap mahal di Indonesia. Karena kebanyakan orang di Indonesia cenderung berhenti belajar setelah bekerja. Bagi masyarakat Indonesia, belajar hanya dilakukan sebelum mendapatkan pekerjaan saja.
 
Masalah ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada orang-orang ini, sebagian besar adalah kesalahan dari metode pengajaran di Indonesia yang tidak menghargai sebuah kegagalan dan metode belajar yang terlalu bertumpu pada guru atau dosen daripada peserta belajar itu sendiri.
 
 
Orang Indonesia lebih peduli dengan hasil, bukan proses
 
Di negara-negara maju pada umumnya, proses itu sangat penting karena selain proses menentukan hasil, tak heran bila biaya tenaga kerja disana sangat mahal. Bahkan proses dapat dihentikan hingga berhari-hari lamanya demi keluaran yang lebih baik di masa mendatang. Jadi di negara-negara industri maju untuk dapat mempercepat keluaran bukanlah dengan menambah tenaga kerja, namun dengan cara tweaking process dan otomatisasi. 
 
Orang Indonesia selalu berpedoman pada “yang penting selesai” sampai perlu lembur, sedangkan di negara maju “bagaimana menyelesaikannya”. Orang Indonesia beranggapan bahwa investasi pada proses adalah sesuatu yang tidak bermanfaat bagi organisasi mereka sehingga mereka lebih berorientasi pada hasil. 
 
Karena alasan tersebut kita akan sangat sedikit melihat startup di Indonesia yang melakukan riset mendalam untuk lini bisnisnya. Masalah ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada startup founders ini, karena sistem pendidikan Indonesia yang berorientasi pada nilai atau indeks prestasi saja. Padahal ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dikuantifikasi dengan angka seperti kreatifitas dan kolaborasi.
 
Orang Indonesia tidak berani melawan status-quo dan tidak terbuka terhadap kritik
 
Orang Indonesia lebih mengikuti aturan dari otoritas yang ada di atasnya dan lebih menjadi pengikut daripada inovator, sehingga membuat kita menjadi tidak berani melawan status-quo. Hal ini dikarenakan ada pandangan kalau orang yang berada di atas atau yang dijadikan CEO di suatu startup selalu benar, selain tidak adanya keterbukaan dari para pemimpin untuk mendapatkan masukan dari orang-orang yang ia pimpin.
 
Cara pandang ini sangat berbeda dengan orang-orang di negara barat seperti Swedia yang justru beranggapan apabila bawahan berani membentak atasannya untuk memperbaiki proses yang ada, berarti mereka sangat peduli dengan kemajuan startup dan hal tersebut justru sangat dianjurkan. Atasan tidak merasa terancam bila dibentak bawahan untuk kemajuan startup. 
 
Di negara-negara tersebut ada pemahaman bersama bahwa bawahan bisa benar dan atasan tidak selalu benar. Atasan berfungsi untuk meningkatkan potensi bawahan, bukan untuk mengambil keuntungan dari bawahannya. Namun di Indonesia seorang CEO yang dibentak oleh bawahannya merupakan sesuatu yang tidak sopan dan pimpinan akan menganggap dirinya terlihat bodoh di depan banyak pihak bila hal tersebut terjadi.
 
Melihat permasalahan-permasalahan di atas yang begitu kompleks dan saling berkaitan satu sama lain bisa dikatakan bila startup sulit maju dan berkembang dengan cepat di Indonesia. Perjalanan pada kebanyakan startup akan selalu berakhir di early stage bila hal ini tidak diubah. Kita tidak akan pernah melihat inovasi produk mutakhir dalam startup di Indonesia sebagaimana dengan di negara-negara lainnya. Dan pada akhirnya Indonesia hanya akan menjadi pengikut dan bukan inovator dalam dunia startup.
 
Mungkin cara berpikir, doktrin dan dogma yang sudah terbangun selama bertahun-tahun dan melekat di benak pikiran orang Indonesia harus di-reset atau di-format terlebih dahulu untuk dapat membuat ekosistem startup kita lebih maju dan berkembang lebih cepat lagi. Mari kita ubah pemikiran kita dimulai dari diri sendiri.
 
Ditulis oleh: Silvester Herjuna. Pengurus ID Startup Founder Pusat. Pengelola startup Wiforgo (wiforgo.com) Beralamat email di silvester@startupfounder.id.