Tren Baca Berita Lewat Facebook Turun, Ini Sebabnya

Ilustrasi membaca berita lewat Facebook (Fortune)
19 Juni 2018 08:00 WIB Chelin Indra Sushmita Teknologi Share :

Solopos.com, SOLO – Beberapa tahun belakangan, Facebook menjadi media sosial favorit untuk menyebarkan berbagai informasi. Hal ini dimanfaatkan oleh pengelola media massa online untuk menyebarkan berita yang diproduksi lewat Facebook. Tapi, belakangan tren mengonsumsi berita di media sosial, khususnya Facebook, mengalami penurunan.

Kebanyakan pemuda zaman sekarang beralih menggunakan Whatsapp sebagai tempat mencari dan menyebarkan berita. Hal ini sesuai dengan temuan yang dilakukan periset dari Reuters Institute. Hasil penelitian itu disusun setelah mengambil sekitar 74.000 responden dari 37 wilayah berbeda.

"Tren konsumsi berita di media sosial seperti Facebook mulai mengalami penurunan. Padahal, media sosial merupakan pasar kunci bagi berbagai informasi," terang Nic Newman, salah satu peneliti dari Reuters Institute, seperti dikutip dari The Nation, Senin (18/6/2018).

Studi yang dilakukan pada 2018 ini menunjukkan konsumsi berita melalui Facebook mengalami penurunan sekitar sembilan persen di Amerika Serikat. Selain itu, terdapat penurunan pada kelompok pembaca, khususnya kalangan muda sekitar 20 persen.

Nic Newman menambahkan saat ini kebanyakan orang memilih mencari dan mengonsumsi berita lewat aplikasi pesan instan seperti Whatsapp. Hal ini dilakukan karena sifatnya lebih privat, tidak seperti di media sosial yang dipenuhi dengan komentar konfrontatif.

Seorang responden mengibaratkan pemakaian media sosial seperti mengenakan topeng. Sebab, seseorang sangat mudah terpengaruh ketika membaca komentar orang lain di media sosial. Itulah sebabnya dia memilih mengonsumsi berita dari yang disebarkan di grup aplikasi pesan instan.

Kendati demikian, baru-baru ini Whatsapp diguncang isu tak sedap. Aplikasi pesan instan terpopuler ini diklaim menjadi media favorit untuk menyebarkan hoaks. Apalagi setelah tersebar kabar meninggalnya dua pemuda India akibat termakan hoaks. Kedua pemuda bernama Abijeet Nath dan Nilotpal Das itu meninggal akibat diamuk massa.

Sejak beberapa bulan terakhir berita bohong soal penculikan anak-anak membuat resah warga India. Kabar itu tersebar tak hanya dari mulut ke mulut, tapi juga dari pesan siaran di Whatsapp.

Pesan hoaks inilah yang merenggut nyawa kedua pemuda tersebut. Mereka yang hendak menanyakan arah kepada warga sekitar malah dituding sebagai penculik hingga akhirnya dipukuli sampai meregang nyawa.