Startup Kita: 6 Bisnis Model Paling Sering Dipakai Membangun Bisnis Rintisan

Ilustrasi bisnis rintisan alias startup (creately.com)
03 Juli 2018 20:29 WIB Indonesia Start Up Founder (IDSF) Chapter Solo. Teknologi Share :

#StartupKita merupakan hasil kerja sama Solopos.com dengan Indonesia Start Up Founder (IDSF) Chapter Solo. IDSF Solo merupakan komunitas yang beranggotakan pegiat start up di wilayah Soloraya. Coworking space di Kota Solo.

Solopos.com, SOLO -- Perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat banyak anak muda berbondong-bondong mencoba peruntungan dengan menjadi founder startup digital. Mereka berharap mendapatkan investasi dari venture capital. Sudah cukup banyak startup digital yang mendapatkan pendanaan baik dari venture capital atau angel investor, akan tetapi failure rate (tingkat kegagalan) suatu startup masih tinggi.

Banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan sebuah startup, salah satunya adalah bisnis model yang tidak tepat. Model bisnis adalah inti dari kesuksesan sebuah startup, karena tidak peduli seberapa keren atau unik ide yang kita punya, sebuah startup harus memiliki cara yang tepat untuk menghasilkan profit agar dapat terus berkembang. Ada banyak sekali cara untuk menghasilkan pendapatan bagi startup digital dan tugas seorang founder adalah mencari model bisnis yang paling sesuai untuk startup atau bisnis yang sedang dibangun.

Berikut ini beberapa contoh model bisnis yang cukup populer :

Market Place

Binsis model ini mempertemukan antara penjual dan pembeli sehingga dapat terbentuk sebuah ekosistem bisnis yang menguntungkan. Penjual dapat membuka toko online tanpa harus menyewa tempat dan pembeli dapat mencari barang yang diinginkan dengan mudah. Di Indonesia ada Tokopedia, Bukalapak, Blibli dan beberapa perusahaan lain yang menerapkan model bisnis ini. Model bisnis ini biasanya memperoleh keuntungan dari biaya setiap transaksi atau biaya iklan dari penjual. Contoh : TopAds (Tokopedia), paket push (Bukalapak) dll.

Layanan on-demand

Layanan dan model bisnis ini membantu masyarakat untuk memesan sebuah layanan instan dalam kehidupan sehari-hari. Di Indonesia ada Go-jek, Uber, Ahli jasa dan beberapa startup lain yang menerapkan model bisnis ini. Model bisnis ini biasanya memperoleh keuntungan dari presentase biaya yang dikenakan untuk setiap transaksi yang terjadi.

Subsciption

Layanan subscription atau berlangganan merupakan layanan yang mengenakan tarif kepada pengguna setiap bulan atau setiap periode tertentu agar pengguna dapat menggunakan layanan terebut. Contoh startup yang menggunakan bisnis model ini adalah Soptify yang mengenakan tarif berlangganan kepada pengguna untuk dapat menikmati seluruh layanan Spotify tanpa iklan.

E-Commerce

Model bisnis ini sudah diterapkan sejak era internet awal dan terlihat kuno. Akan tetapi masih banyak startup yang menggunakan model bisnis E-Commerce. Contoh startup yang menggunakan model bisnis ini adalah Kawruh.com, Amazon dan Warby Parker. Model bisnis ini memperoleh pendapatan dari markup pada barang yang dijual.

Software as A Service (SaaS)

Model bisnis ini menawarkan jasa penyewaan perangkat lunak kepada pelanggan, umumnya berupa perangkat lunak yang digunakan oleh perusahaan (B2B). Contoh startup yang menggunakan model bisnis ini adalah  Gadjian, Kata.ai dan Zahir Accounting. Model bisnis ini memperoleh pendapatan dari biaya langganan bulanan atau tahunan dan kadang juga memakai model Freemium.

Konsumen

Model bisni ini menawarkan layanan secara gratis kepada konsumen, karena focus utamanya adalah membangun saluran distribusi yang kuat. Setelah produk digunakan oleh banyak orang, mereka dapat memperoleh pendapatan dari iklan. Contoh perusahaan yang menggunakan model bisnis ini adalah Facebook, Instagram, SnapChat, Google.

Ditulis oleh: Bagas Utomo Putro. Pengurus ID Startup Founder. Pengelola startup Teman Belajar (teman-belajar.com) Beralamat email di bagas@teman-belajar.com