Pengaruh Aphelion, Gerhana Bulan 28 Juli 2018 Terlama di Abad 21

Bulan keluar dari bayangan penumbra Bumi saat terjadi gerhana bulan di Tangerang, Banten, Rabu (31/1 - 2018). (Bisnis / Rahmatullah)
21 Juli 2018 05:30 WIB Agne Yasa Teknologi Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Gerhana Bulan Total (GBT) yang terjadi pada 28 Juli 2018 memiliki keistimewaan dibandingkan gerhana bulan sebelumnya pada Januari 2018. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gerhana bulan total pada 28 Juli 2018 merupakan fenomena yang akan berlangsung dalam durasi terlama di abad ke-21.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan perhitungan secara astronomi, GBT pada 28 Juli 2018 posisinya terjadi pada tengah malam. “Mulai terjadinya gerhana tepat di pukul 00.13 WIB berakhirnya [sekitar] di 06.45 WIB. Durasinya tergolong lama,” katanya kepada Bisnis/JIBI, Jumat (20/7/2018).

Dia menjelaskan pada saat purnama durasinya bisa mencapai 103 menit yang merupakan terlama di abad ke-21 karena setelah itu tidak akan ada yang memiliki durasi lebih lama.

Hary menambahkan gerhana bulan total dengan durasi yang lebih lama akan terjadi lagi pada Juni 2123 yang mencapai 106 menit. Namun, tidak bisa diamati di wilayah Indonesia, sedangkan yang dapat diamati di wilayah Indonesia terjadi pada Juni 2141 yang mencapai durasi 106 menit.

“Jadi itu kenapa yang dikatakan abad ini yang terlama Gerhana Bulan Total, nanti ada di abad ke-22 yang terlama lagi,” ujarnya.

Lamanya durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 tersebut disebabkan oleh tiga hal. Penyebab pertama adalah saat puncak gerhana terjadi, posisi pusat piringan Bulan dekat sekali dengan pusat Umbra Bumi.

Penyebab kedua adalah Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 terjadi pada saat Bulan di sekitar titik terjauhnya dari Bumi, yang dikenal sebagai titik apoge. Penyebab ketiga adalah pada Juli 2018, Bumi sedang berada di sekitar titik terjauhnya dari Matahari, (aphelion), yaitu yang terjadi pada 6 Juli 2018 pukul 23:47 WIB dengan jarak 152 juta km.

Pada saat puncak gerhana terjadi, jarak Bumi - Matahari lebih dekat 184.000 km daripada saat aphelion tersebut. Secara umum, semakin jauh posisi Bumi dari Matahari, kerucut umbra yang terjadi menjadi semakin panjang dan lebih besar jika dibandingkan saat Bumi berada di sekitar titik terdekatnya dari Matahari.

Karena itu, durasi totalitas Gerhana Bulan Total yang terjadi pun berpotensi menjadi lebih lama. Adapun yang membedakan dari gerhana sebelumnya yaitu GBT pada 28 Juli 2018 berada di posisi jarak terjauh bumi dan matahari atau aphelion sehingga warnanya merah (blood moon), namun tampilan ukurannya tidak sebesar pada gerhana bulan pada Januari 2018.

“Ini bisa dinikmati untuk wilayah Indonesia, bisa diamati seluruh wilayah Indonesia dengan catatan kondisi cuaca memungkinkan, cerah,” katanya.