Twitter Ajak Pengguna Rumuskan Kebijakan Komentar Tak Pantas

Logo Twitter (Mediaweek)
28 September 2018 02:00 WIB Chelin Indra Sushmita Teknologi Share :

Solopos.com, SOLO – Twitter mengajak pengguna membantu menyusun kebijakan larangan cuitan yang merendahkan pihak lain dan tidak manusiawi. Hal ini dimaksudkan untuk membantu Twitter menyaring konten negatif berisi ujaran kebencian yang viral. Twitter juga meminta bantuan pengguna tentang kategori pembatasan cuitan yang menyinggung ras, agama, orientasi seksual, dan berbagai hal lain yang dianggap tidak pantas.

"Kami ingin meningkatkan kualitas penyaring konten negatif. Jadi, kami meminta bantuan Anda semua untuk merumuskan kebijakan tersebut. Seperti diketahui, cuitan dengan bahasa buruk yang merendahkan dan tidak manusiawi masih banyak terlihat di Twitter. Jadi, dengan ini kami mencoba menyaring konten negatif itu demi kenyamanan pengguna," demikian pengumuman dari Twitter yang ditulis di blog seperti dikabarkan Cnet, Kamis (27/9/2018).

Twitter sebenarnya sudah melarang pengguna membuat cuitan bernada kasar, berisi ancaman dan hinaan yang bersifat diskriminatif. Namun, kali ini mereka meminta umpan balik dari pengguna untuk merumuskan kembali kebijakan tersebut.

"Kami ingin memastikan dan merumuskan kembali kebijakan tersebut. Karena perbedaan budaya dan kebiasaan tentu membuat pola komunikasi yang berbeda pula. Jadi, kami meminta bantuan Anda untuk membantu merumuskan kembali kebijakan larangan cuitan negatif," sambung Twitter.

CEO Twitter, Jack Dorsey, sebenarnya telah berulang kali menentang adanya aturan yang terlalu ketat di platform-nya. Namun, dia akhirnya menyetujui perubahan beberapa kebijakan setelah sejumlah platform media sosial memblokir sosok kontroversial dari Amerika Serikat, Alex Jones.

Alex Jones diblokir oleh Youtube dan Facebook karena menyebarkan konten negatif yang berbahaya. Dia dianggap sebagai pencetus teori konspirasi yang semestinya tidak dibiarkan eksis di media sosial. Sebab, pernyataannya yang kontroversial seringkali dikritik sampai memecah belah publik.