Internet Lemot, Tanda Operator Pelit Investasi

ilustrasi jaringan internet e/office. (illustratiction.fr)
11 Desember 2018 05:30 WIB Duwi Setiya Ariyanti Teknologi Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Kualitas jaringan menjadi salah satu indikator utama untuk melihat kemampuan modal operator dan membelanjakannya. Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Giovanni Dustin, mengatakan operator harus bisa mengantisipasi kenaikan trafik data di jaringannya.

Seperti diketahui, pengguna ponsel pintar bakal terus meningkat sehingga operator harus bisa mengantisipasi lonjakan trafik data di jaringan. Satu-satunya cara adalah dengan membelanjakan modal yang memadai untuk memoles kualitas jaringan.

"Investment harus sejalan dengan naiknya data traffic. Kalau investment-nya lagging, ya jadi lelet [koneksi internetnya]," ujarnya saat dihubungi Bisnis/JIBI, Senin (10/12/2018).

Kualitas jaringan, katanya, menjadi modal penting menggaet pengguna di jaringan. Bila operator tak memperkuat jaringannya dengan kondisi pengguna yang terlalu penuh, kualitas jaringan yang buruk akan membuat pelanggan beralih ke operator lain. Oleh karena itu, penting bagi operator memastikan performa jaringannya untuk menjaga basis pelanggan. "Kalau network jelek, ya lama-lama subs [pelanggan] jadi pindah ke [operator] yang lain," kata Giovanni.

Belum lama ini, Open Signal, perusahaan yang melakukan pengukuran kualitas jaringan nirkabel merilis laporan terbarunya. Uniknya, terdapat perubahan dari beberapa indikator bila dibandingkan dengan laporan yang dirilis pada Juni dan Desember 2018.

Meskipun angka ketersediaan jaringan 4G naik cukup besar dengan rerata ketersediaan melewati 70%, untuk indikator lain belum menunjukkan perubahan signifikan. Bahkan dalam soal kecepatan pengunduhan 4G, operator justru menunjukkan penurunan.

Dalam laporan itu, Smartfren yang sebelumnya mampu mencapai kecepatan pengunduhan 9,83 Mbps justru kecepatannya menurun pada hasil pengukuran terbaru menjadi 6,3 Mbps dan latensi naik dari 60,18 ms menjadi 64,09 ms. Namun, dari sisi ketersediaan jaringan 4G, Smartfren masih mencatatkan angka tertinggi dengan 94,32% atau naik dari hasil pengukuran sebelumnya yakni 92,59%.

Adapun, terdapat peningkatan pada performa jaringan XL dengan naiknya ketersediaan dan menurunnya latensi. Ketersediaan jaringan 4G XL naik dari 76,22% menjadi 84,59%. Dari sisi latensi 4G, turun tipis dari 61,01 ms menjadi 60,77 ms. Sayangnya, dari sisi kecepatan pengunduhan 4G justru turun dari 8,86 Mpbs penjadi 8,14 Mbps.

Sama dengan XL, Hutchison Tri Indonesia juga mampu menaikkan ketersediaan jaringan 4G sekaligus menurunkan latensi namun kecepatan pengunduhan 4G turun tipis. Hutchison Tri Indonesia mencapai 84,59% atau naik dari 83,66% untuk ketersediaan jaringan 4G.

Dari sisi kecepatan pengunduhan 4G, Hutchison Tri Indonesia mencapai 4,47 Mbps atau lebih rendah dari hasil pengukuran sebelumnya pada 4,57 Mbps. Untuk latensi 4G, Hutchison Tri Indonesia mencapai 56,62 ms atau turun dari 58,08 ms.

Di periode ini, Indosat mampu menaikkan ketersediaan jaringan 4G cukup besar namun belum mampu menaikkan kecepatan pengunduhan dan latensi. Untuk ketersediaan jaringan, Indosat mampu menyentuh 80,28%. Kemudian, untuk kecepatan pengunduhan 4G turun dari 4,79 Mbps menjadi 4,19 Mbps sedangkan latensi 4G naik dari 73,64 ms menjadi 73,95 ms.

Terakhir, Telkomsel mencatatkan perubahan di banyak kategori mulai dari ketersediaan jaringan, kecepatan dan waktu tunda atau latensi. Dari sisi kecepatan pengunduhan 4G, Telkomsel mencatatkan kenaikan dari 12,86 Mbps menjadi 14,4 Mbps sekaligus latensi 4G yang menurun dari 45,53 ms menjadi 41,81 ms. Di saat bersamaan, ketersediaan jaringan naik dari 69,56% menjadi 77,52%.

Sumber : Bisnis/JIBI