Kembangkan Teknologi AI, Tokopedia Rancang Logistik Pintar

VP Engineering Tokopedia Herman Widjaja (kedua dari kiri), CEO Tokopedia William Tanuwijaya (ketiga dari kiri), Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir (keempat dari kiri), dan Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis (kelima dari kiri) mendengarkan demo mengenai aplikasi teknologi kecerdasan buatan di Tokopedia AI Center of Excellence, Kamis (28/3/2019). (Bisnis - Deandra Syarizka)
01 April 2019 01:10 WIB Deandra Syarizka Teknologi Share :

Solopos.com, JAKARTA - Tokopedia tengah membangun teknologi prediksi permintaan menggunakan kecerdasan buatan. Teknologi ini akan digunakan untuk membangun sistem logistik yang bisa mendukung pengiriman satu hari secara merata di seluruh Indonesia.

Founder dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya yakin teknologi kecerdasan buatan dapat menjadi inovasi kunci yang mengubah sistem pengiriman barang dan transaksi melalui platform dagang-el menjadi lebih efisien melalui konsep smart logistic.

Konsep smart logistic, menurutnya, mendukung upaya Tokopedia berkontribusi dalam pemerataan ekonomi melalui teknologi. Salah satunya dengan memberikan kesempatan kepada pelanggan di seluruh daerah untuk mengakses produk di manapun sekaligus menerima produk yang dibelinya pada hari yang sama.

Dia menyebut saat ini satu dari tiga produk yang ditransaksikan di Tokopedia dapat diterima pada hari yang sama oleh pelanggan. Masalahnya, demografi Indonesia yang terdiri dari banyak pulau menjadi tantangan tersendiri bagi sistem logistik. Akibatnya, konsep transaksi sehari barang sampai belum bisa diimplementasikan secara merata di Tanah Air.

“Tokopedia sedang melakukan riset berbasis AI [Artificial Intelligence/kecerdasan buatan] jika kami bisa memberikan demand prediction pada merchant di Aceh dan Jakarta, lalu kami bangun warehouse dengan sistem smart logistic. Maka semua orang di Indonesia punya kesempatan yang sama untuk mengakses dan menerima barang di hari yang sama,” ujarnya saat peluncuran Tokopedia AI Center of Excellence di Universitas Indonesia, Kamis (28/3/2019).

Dalam konteks platform dagang-el, ujarnya, dia menyebut teknologi AI mampu menghitung banyak variabel. Tak hanya mampu menganalisis kebiasaan berbelanja konsumen, teknologi ini juga mampu membuat rekomendasi produk yang bersifat personal, hingga membuat prediksi  permintaan konsumen. Prediksi kebutuhan inilah yang akan dikembangkan lebih lanjut dalam konsep smart logistic.

Setelah mengetahui prediksi mengenai jumlah dan jenis produk yang diminta konsumen, ujarnya, pedagang dapat menitipkan produk mereka di gudang pintar sesuai lokasi konsumen. Dengan demikian, pengiriman di hari yang sama dengan transaksi menjadi lebih memungkinkan.

“Dengan begitu pebisnis di Aceh seakan-akan bisa memiliki kantor  cabang di manapun pasarnya ada. Ini adalah inovasi yang akan terus kami kembangkan,” ujarnya. 

William tidak memerinci lebih lanjut baik detail peta jalan Tokopedia menuju smart logistic tersebut, maupun dana yang perusahaan siapkan untuk mengembangkannya. Yang jelas, dia menyadari betul pengembangan inovasi teknologi membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

Oleh karena itu, dia menyebut dana investasi sebesar US$ 100 juta dari Softbank Internet and Media Inc dan Sequoia Capital yang didapatkan perusahaannya pada tahun lalu akan digunakan salah satunya untuk memaksimalkan pengembangan SDM dan juga riset di bidang AI.  Hal itu diwujudkan dengan kolaborasi bersama perguruan tinggi untuk melahirkan talenta digital dan inovasi baru. 

“Kami sedang koordinasi dengan 100 univesitas lainnya, yang mulanya Tokopedia corner akan menjadi Tokopedia Center seperti di UI. Mencari talenta digital memang susah, tetapi kita tidak boleh menyerah,” ujarnya.

Head of Research Scientist Tokopedia Irvan Bastian Arief menyatakan, penerapan teknologi AI sangat luas, termasuk untuk platform dagang-el. Dalam hal ini, pihaknya menyebut Tokopedia telah menggunakan teknologi AI untuk fitur image search yang terdapat di dalam aplikasinya.

Dengan teknologi tersebut, konsumen dapat mencari produk yang diinginkan melalui foto yang diunggah ke dalam sistem. Selanjutnya, aplikasi akan menganalisis data pedagang yang menjual produk serupa foto yang diunggah. 

“Biasanya kan kita ketik keyword kalau cari barang. Sekarang kalau misalnya kita naksir kemeja yang dipakai teman, kita tinggal foto lalu unggah di aplikasi. Lebih mudah,” ujarnya.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, mengungkapkan pemerintah mendorong agar lebih banyak kolaborasi yang tercipta antara akademisi dengan praktisi di industri. Menurutnya, hal tersebut dapat membantu mengatasi tantangan minimnya SDM di bidang digital saat ini, dan di saat yang sama menciptakan inovasi yang siap pakai di industri.

“Kemenristekdikti mendorong perguruan tinggi ke depan bisa berkolaborasi dengagn industri sebagai pengguna. Kalau tidak, akan ada gap luar biasa antara lulusan dengan pengguna,” ujarnya.