Berantas Hoax, BSSN Minta Facebook Tak Cuma Tunggu Laporan

(Dari kiri) Direktur Pengendalian Informasi, Investigasi dan Forensik Digital BSSN Bondan Widiawan, Sekretaris Utama BSSN Syahrul Mubarak, Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari, Kepala BSSN Djoko Setiadi, dan Direktur Deteksi Ancaman BSSN Sulistyo dalam konferensi pers pada Jumat (12/4 - 2019)
13 April 2019 01:10 WIB Rahmad Fauzan Teknologi Share :

Solopos.com, JAKART - Mendekati penyelenggaraan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyatakan penyebaran hoaks, konten negatif, ujaran kebencian sudah mengarah ke gangguan kestabilan nasional.

Terkait dengan kondisi tersebut, Kepala BSSN Djoko Setiadi mendesak platform media sosial, khususnya Facebook, untuk menciptakan situasi yang kondusif melalui langkah penangguhan akun yang menyebarkan konten negatif, termasuk propaganda.

“Diakui bahwa hoaks, menjelang Pemilu 2019 sudah mengarah ke gangguan stabilitas nasional. BSSN desak Facebook untuk menciptakan kondisi kondusif,” tegas Djoko dalam konferensi pers di Kantor BSSN, Jakarta Selatan, Jumat (12/4/2019).

Sejauh ini, pihak Facebook mengatasi ancaman yang berasal dari hal-hal negatif di media sosial menggunakan 5 pilar yang platform tersebut inisiasi.

Adapun, kelima pilar tersebut meliputi; pertama, usaha menurunkan akun palsu; kedua, mengurasi distribusi berita tidak benar dan tidak valid; ketiga, transparansi iklan politik; keempat, memberikan hambatan sebesar-besarnya kepada bad actor; dan kelima, memberikan layanan diseminasi dan sosialisasi terkait dengan pemilu.

Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia, Ruben Hattari, mengungkapkan platform buatan Mark Zuckerberg tersebut tidak dapat dengan mudah dalam mengatasi hal-hal negatif.

“Kami menggunakan AI (artificial intelligence) dan reviewer manusia untuk melacak akun palsu secara masif. Namun, keterbatasan kami adalah, kami masih sangat kesulitan karena ada 110 juta pengguna aktif Facebook di Indonesia,” jelas Ruben.

Dalam hal ini, Facebook diharapkan untuk lebih mengedepankan usaha pencegahan munculnya konten negatif. "Tidak sekedar reaktif dan menunggu pelaporan," tegas Djoko.